| Reaksi pemain Real Madrid setelah Albacete mencetak gol di laga 16 besar Copa del Rey, 15 Januari 2026. (c) AP Photo/Jose Breton |
MOLEKTOTO – Musim 2025/2026 menghadirkan ironi besar di sepak bola Spanyol. Dua akademi terbaik, La Fabrica dan La Masia, berjalan ke arah yang berlawanan. Hasilnya mencolok.
Real Madrid tersingkir dari Copa del Rey. Tim muda asuhan Alvaro Arbeloa kalah 2-3 dari Albacete. Lawan mereka berasal dari La Liga 2.
Di saat yang sama, Barcelona berpesta. Pemain-pemain jebolan La Masia menjadi tulang punggung kesuksesan tim utama. Gelar Supercopa de Espana pun diraih.
Situasi ini menegaskan sebuah paradoks. Akademi Madrid aktif memproduksi pemain, tetapi gagal memberi dampak instan. Barcelona justru menuai hasil nyata dari jalur pembinaan.
La Fabrica dan Kegagalan di Copa del Rey

| Reaksi kecewa skuad Real Madrid dalam laga babak 16 besar Copa del Rey antara Albacete vs Real Madrid, 15 Januari 2026 (c) AP Photo/Jose Breton |
Real Madrid menurunkan banyak pemain La Fabrica di Copa del Rey. Ada David Jimenez, Raul Asencio, Fran Garcia, Jorge Cestero, dan Gonzalo Garcia. Cesar Palacios serta Manuel Angel masuk dari bangku cadangan.
Komposisi ini menunjukkan keberanian klub. Namun, hasil akhir tidak berpihak. Madrid kalah dari Albacete dalam laga krusial babak 16 Besar.
Gonzalo Garcia tampil cukup menonjol. Ia mencetak gol dan menjadi pengganti kompetitif untuk Kylian Mbappe yang absen. Performa individu itu tidak cukup mengubah nasib tim.
Sebagian besar pemain La Fabrica lain gagal memberi dampak signifikan. Kekalahan ini menjadi pukulan bagi proyek pengembangan pemain muda Madrid.
La Masia dan Dominasi Barcelona

| Para pemain Barcelona merayakan kemenangan dalam laga final Piala Super Spanyol melawan Real Madrid di King Abdullah Sports City Stadium, Jeddah, 12 Januari 2026 (c) AP Photo/Altaf Qadri |
Barcelona berada di jalur sebaliknya. Pemain jebolan La Masia menjadi pusat permainan tim utama. Mereka tampil matang di level tertinggi.
Final Supercopa de Espana menjadi panggung utama. Barcelona menang 3-2 atas Real Madrid. Sejumlah pemain La Masia tampil sejak menit awal.
Alex Balde, Eric Garcia, Pau Cubarsi, Fermin Lopez, dan Lamine Yamal masuk starting XI. Dani Olmo serta Gerard Martin memberi kontribusi dari bangku cadangan.
ESPN mencatat momen spesial. Ada 13 pemain jebolan La Masia dalam skuad juara Supercopa. Tidak semuanya bermain, tetapi perannya tetap vital.
Dua Akademi, Dua Arah yang Berbeda

| Pemain Como, Nico Paz, merayakan gol yang ia cetak saat laga Serie A melawan Torino, Senin, 24 November 2025. (c) Fabio Ferrari/LaPresse via AP |
La Masia dikenal konsisten melahirkan pemain inti bagi Barcelona. Dari Lionel Messi hingga Lamine Yamal, jalurnya jelas. Akademi dan tim utama berjalan selaras.
La Fabrica menghadapi fenomena berbeda. Banyak lulusannya justru bersinar setelah meninggalkan Santiago Bernabeu. Kesempatan di tim utama sangat terbatas jadi alasannya.
Nico Paz berkembang pesat di Como 1907. Alvaro Carreras menemukan performa terbaik di Benfica. Achraf Hakimi bersinar setelah hijrah ke Dortmund.
Kasus serupa terjadi pada Marcos Llorente di Atletico Madrid. La Fabrica tetap produktif, tetapi manfaat terbesarnya justru dirasakan klub lain. Paradoks itu kini semakin nyata.

Promo Bonus Terbesar:
- Bonus New Member 15%
- Bonus Deposit Harian 10%
- Bonus Cashback up to 15% ( Tembak Ikan & Live Casino )
- Bonus Cashback Sportbook 5% ( minimal kekalahan 250 rbu )
- Bonus Rollingan Slot 0.5% ( Tanpa Batas )













Leave a Reply